Pasang Banner

Pasang Banner
Pasang Banner

Minggu, 29 September 2013

Indonesia memasuki era TV Digital

INDONESIA mulai memasuki era siaran TV Digital free-to-air. Sistem siaran televisi digital ini mampu mentransmisikan sinyal gambar dan suara dengan kualitas penerimaan yang lebih tajam dan lebih jelas di layar TV daripada siaran analog.

Sejak akhir 2012, infrastruktur TV Digital telah mulai dibangun dan dioperasikan oleh operator multiplexing swasta di Jawa dan Kepulauan Riau. Konten siaran juga dapat dinikmati dalam format digital di wilayah tersebut. Daerah lain akan secara bertahap mengikuti, seperti Aceh, Sumatera Utara, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Selama masa transisi, sinyal analog dan digital dipancarkan secara bersamaan yang dikenal sebagai periode siaran. Selain memastikan hak orang untuk mendapatkan informasi melalui media TV, tujuan periode transisi adalah agar orang mulai beralih ke siaran digital. Dalam periode ini komunitas juga dapat melihat perbedaan kualitas siaran analog dan digital.

Tanpa harus membeli TV baru, komunitas dapat menikmati konten siaran format digital dengan menambahkan perangkat konverter (disebut set top box) di TV lama. Set top box (STB) adalah penerima siaran digital yang berfungsi untuk mengubah dan mengompres sinyal digital sehingga mereka dapat diterima di TV analog.

STB sebagai penerima sinyal digital harus memiliki standar yang sama dengan sistem pemancar, yaitu DVB-T2. Standar ini telah diadopsi oleh Indonesia sejak 2012, menggantikan standar DVB-T (2007) sebagai standar penyiaran TV Digital terestrial untuk pendapatan bebas-ke-udara atau tidak dibayar.

Salah satu perbedaan antara siaran TV analog dan digital adalah penggunaan spektrum frekuensi radio sebagai sumber daya alam yang sangat terbatas. Dalam sistem penyiaran TV analog, satu saluran frekuensi digunakan untuk menyalurkan satu program siaran TV. Sedangkan untuk sistem penyiaran digital DVB-T2, satu saluran frekuensi mampu membawa hingga 12 program siaran definisi standar (SDTV). Artinya, ada inefisiensi dalam penggunaan spektrum frekuensi radio dalam sistem analog. Sebagai gantinya, ada optimisasi pemanfaatan kanal frekuensi dalam sistem digital.

Pada siaran TV Digital, kualitas gambar dan suaranya jauh lebih baik daripada siaran analog. Ini karena sinyal digital relatif stabil dan tidak berkurang. Siaran TV digital juga hanya mengenali kondisi yang dapat diterima (1) atau tidak menerima (0) sinyal. Selama sinyal dapat diterima oleh penerima, gambar dan suara dari konten siaran dapat dinikmati. Sedangkan pada siaran TV analog, kualitas sinyal cenderung menurun ketika lokasi penerima lebih jauh dari titik transmisi, menyebabkan kebisingan atau 'kesemutan'. Selain itu, kerentanan sinyal siaran analog dengan gangguan cuaca.

Membangun jaringan infrastruktur TV Digital memang membutuhkan investasi besar. TV Multiplexing Operator digital harus membangun infrastruktur di area layanan di dalam zona layanan mereka sesuai dengan komitmen selama pemilihan multiplexing. Namun infrastruktur yang ada masih bisa dimanfaatkan seperti gedung, sumber daya manusia dan lainnya. Kemudian, operator multiplexing dapat menyewakan sebagian dari kapasitasnya ke penyiar yang menyediakan program siaran.

Jadi, penyedia konten tidak perlu membangun infrastruktur sendiri seperti pemancar, antena, menara, dan sebagainya. Penyedia konten hanya menyewa slot siaran sesuai dengan ketentuan untuk operator multiplexing untuk menyalurkan konten siaran kepada publik di suatu daerah. Model bisnis ini adalah ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah sambil memprioritaskan prinsip akses terbuka dan non-diskriminatif antara operator jaringan dan penyedia konten siaran.

Proses transisi dari analog ke digital ketika siaran analog dihentikan (analog switch-off). Analog Switch Off (ASO) telah dilakukan secara total di banyak negara, termasuk Amerika Serikat (12 Juni 2009), Jepang (24 Juli 2011), Kanada (31 Agustus 2011), Inggris dan Irlandia (24 Oktober, 2012), Australia (2013) Indonesia menetapkan ASO secara nasional pada tahun 2018. Namun, ASO akan dilakukan secara bertahap di kota-kota besar yang telah diliput oleh siaran TV Digital. Seperti kota-kota di Jawa, ASO berencana untuk diterapkan pada 2015 setelah hampir semua populasi terjangkau dan telah menonton siaran digital.

Kelancaran proses migrasi ke ASO tergantung pada dukungan semua pemangku kepentingan. Kesadaran publik tentang membeli STB mereka sendiri untuk beralih dari menonton siaran TV analog ke digital sangat penting. Operator multiplexing Digital TV memang menyediakan STB sebagai bentuk komitmennya untuk mendukung program migrasi sistem penyiaran dari analog ke digital. Namun, jumlahnya terbatas dan distribusi juga membutuhkan waktu yang cukup lama dan kriteria penerima harus sesuai dengan ketentuan. Pemerintah juga mendorong produsen lokal untuk menetapkan top box

 Sumber :http://tvdigital.kominfo.go.id/
Artikel Terkait

Comments
0 Comments

0 komentar :

Posting Komentar