Pasang Banner

Pasang Banner
Pasang Banner

Rabu, 16 Maret 2016

Sajian Walang Goreng Yang Terus Di Buru


Walang atau dalam bahasa indonesia disebut belalang merupakan sejenis serangga yang hidup di persawahan merupakan musuh bagi para petani dikarenakan walang merupakan sejenis hama tanaman yang memakan berbagai jenis dedaunan tanaman yang di tanam oleh para petani. Belalang ini suka memakan daun jati, daun pisang, dan rumput-rumput liar, alhasil berbagai macam jenis tanaman baik musiman maupun tahunan banyak yang rontok daunnya gara gara di gerogoti belalang.

Namun lain halnya dengan warga Jolosutro, Piyungan, Bantul, Yogyakarta. Sebut saja namanya Sugeng yang gemar mencari belalang baik itu di olah sendiri maupun di jual kepada siapa saja yang memesannya. Setiap kali mencari belalang Sugeng berbekal kantong berbentuk jaring dan sedong(sebutan warga sekitar) yakni bambu kecil sepanjang kurang lebih 5 meteran dengan ujungnya di pasang semacam jaring untuk menangkap belalang. Setiap kali berangkat mencari walang berangkat jam 08 pagi hingga siang hari bisa memperoleh sedikitnya 1 botol aqua besar yang di hargai Rp 50.000,00 bagi yang memesannya. Ketika malam tiba pun sering mencari belalang dengan berbekal senter kepala dan kantong tempat hasil temuan belalang.

Mencari walang di malam hari sangatlah mudah namun harus menunggu ketika walang sudah turun dari atas pohon dan yang berumur sudah tua. Ketika penulis mencoba mencari walang pada malam hari yang ketika itu di temani sama Sugeng(tetangga sebelah). Selesai magrib kami berangkat menuju lereng pegunungan di pinggiran desa dan menuju hutan perkebunan kayu jati di samping desa, hanya suara jangkrik yang menemani kami berburu walang.

Berbekal senter doang yang kala itu saya beli di pasar Prambanan seharga 45 ribu, cukuplah sudah untuk menerangi saat berburu walang. Menyusuri jalanan setapak menuju hutan jlumpangan, namun selama perjalanan sambil tengak tengok kiri kanan melihat apabila ada walang yang kelihatan. Tidak perlu lama hampir di setiap pohon dan tanaman selalu di jumpai walang yang hinggap baik itu di dedaunan maupun di batang tanaman seperti tanaman singkong, rumput gajah, daun pisang atau pohon gamal. Yups sangat mudah kami menangkapnya, karena ketika malam hari mereka jinak-jinak apalagi kalau sehabis hujan tambah jinak banget. Kadang dalam satu tangkai pohon di jumpai sekitar 5 hingga 10 belalang yang siap di tangkap tanpa ada perlawanan ataupun melarikan diri.

Selama mencari walang di rerimbunan tanaman dan rerumputan liar, alhamdulillah tidak menemui hal-hal yang kami anggap aneh. Sekitar jam 10.30 malam kami turun dari hutan dan menuju kerumah, yah semua sudah pada tidur. Akhirnya keesokan harinya baru bisa di masak dan di bumbui, humm sedap yummmy...eh pagi harinya orang pada datang untuk mencicipi walang buruan semalam...

Google Ping
Artikel Terkait

Comments
0 Comments

0 komentar :

Posting Komentar