Pasang Banner

Pasang Banner
Pasang Banner

Sabtu, 13 Desember 2014

Ngerti Bahasa Gaul Jogja Ga' Dab!

Bahasa gaul di Jogja memang unik, bahkan saking uniknya kadang menjadi susah di mengerti bagi orang di luar Jogja. Selain dialek tertentu berupa serapan atau penekanan, di Jogja juga populer dengan 'boso walikan'.
Semua bahasa gaul yang di pakai di kota Jogja ini semua dalam bahasa Jawa. Kita coba liat sebuah penekanan suatu kata dalam dialek tertentu misalnya "aku arep lungo je" kata 'je' yang di maksud adalah penekanan pada kalimat 'saya mau pergi', ada juga sebuah penekanan lain yang dengan mengganti satu huruf vokal misalnya dari 'dowo' menjadi 'dowi', 'jero' menjadi 'jeru', 'padhang' menjadi 'padhing'. Semua penekanan kata tersebut mempunyai arti yang sama dan mungkin bisa di maknai 'panjang-panjang sekali', ' dalam-dalam sekali', 'terang-terang sekali'. Itu tadi merupakan beberapa contoh yang ada.
Tak kalah unik bahasa gaul di kota Jogja ini adalah 'boso walikan', anda mungkin pernah mendengar atau melihat kata 'dagadu' yang telah menjadi brand sebuah kaos di Jogja. Itu merupakan salah satu contoh dari boso walikan tersebut yang maknanya adalah 'matamu'. Bahasa gaul di Jogja yang lainnya seperti dab, japemethe, temon, sonyol, pisu, pabu, sahan, hongip, sacilad, pinyal, sangi, libel, dhalat, dhogos.
Bahasa walikan tersebut merupakan gubahan dari kata kata yang di pakai sehari-hari. Dengan metode
Ha na ca ra ka
Da ta sa wa la
Pa da ja ya nya
Ma ga ba tha nga
Misalnya seperti sonyol jika di uraikan menjadi 'so-bo,nyo-ko, l-ng' jadi kata 'sonyol' itu bermakna 'bokong' Jadi misalnya ada ungkapan "wah, sonyole temon kui pahin-pahin" itu merupakan ungkapan gaul yang sudah di rubah dari aslinya.
Ketika ada temen yang mau pergi meninggal kan kita ada yang bilang 'sangi dab' itu bermakna 'bali mas' atau mau pulang.
Ada juga model bahasa gaul yang berupa singkatan atau kependekan dari beberapa suku kata misalnya saja 'gondes' dari kata gondrong ndeso, 'krise' dari kata kriting semrawut, 'kriwul' dari kata kriting awul-awul, 'mukri' dari kata munyuk kriting, 'pede' dari kata pekok dewe, 'mendes' dari kata menthel ndeso.
Mengenai asal-usul boso walikan tersebut, ada yang berpendapat bahwa pada jaman dahulu sejak jaman penjajahan bahasa ini di pakai sebagai sandi untuk mengelabui musuh. Namun ada juga yang beranggapan bahwa boso walikan tersebut merupakan boso preman.
Jadi proses sederhana tapi bikin pusing bagi yang belum ngerti, tapi saya yakin orang yang pernah tinggal di Jogja akan tahu bahasa gaul ini. Hampir di semua kalangan baik di pasar,sekolahan,perkantoran,banyak yang menggunakan basa gaul ini.
Artikel Terkait